Ketika nama dr. Soetomo disebut, ingatan bangsa biasanya langsung tertuju pada Boedi-Oetomo, organisasi yang lahir pada 20 Mei 1908 dan kemudian dikenang sebagai tonggak sejarah Kebangkitan Nasional. Namun, jejak perjuangan dr. Soetomo tidak berhenti pada gerakan pendidikan, sosial, dan politik kebangsaan.

Ada satu sisi penting yang sering luput dibicarakan: perjuangan ekonomi.

Di Surabaya, dr. Soetomo ikut menjadi aktor intelektual lahirnya N.V. Bank Nasional Indonesia, sebuah institusi perbankan swasta pribumi yang berdiri pada masa kolonial Hindia Belanda. Gagasan besarnya jelas: bangsa yang ingin merdeka tidak cukup hanya sadar secara politik. Ia juga harus kuat secara ekonomi.

Pada masa itu, akses masyarakat pribumi terhadap lembaga keuangan masih sangat terbatas. Bank-bank Eropa lebih banyak melayani kepentingan kolonial dan kelompok usaha tertentu. Kepentingan rakyat pribumi, terutama dalam memperoleh kredit, hipotek, modal kerja, dan dukungan usaha, belum menjadi prioritas. Dalam ruang yang timpang itulah dr. Soetomo melihat perbankan sebagai jalan perjuangan yang strategis.

Bukan perjuangan dengan teriakan. Bukan pula dengan slogan semata. Tetapi dengan lembaga, modal, tata kelola, dan keberanian membangun kemandirian.

Izin pendirian N.V. Bank Nasional Indonesia dikeluarkan pemerintah kolonial pada Mei 1929. Prosesnya tentu tidak sederhana. Pada masa kolonial, pendirian lembaga perbankan membutuhkan kehati-hatian dan pengawasan ketat. Namun akhirnya izin diberikan dengan pertimbangan bahwa penduduk “Indonesia” perlu memperoleh kesempatan yang lebih adil dan setara dalam kegiatan ekonomi.

Dalam anggaran dasar bank tersebut, tercatat 18 nama pendiri. Susunan pengurusnya mencerminkan keterlibatan para tokoh pribumi yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan ekonomi rakyat. Direktur bank adalah Raden Mas Hario Soejono, dengan direktur pengganti Raden Pandji Soenario Gondokoesoemo. Para komisaris terdiri dari R. Soetomo, Raden Ngabei Soebroto, dr. M. Soewarno, Hadji Djakaria bin Barmawie, dan Raden Pandji Soeroso.

Modal awal bank ini mencapai f500.000, jumlah yang signifikan pada masa itu. Tujuannya juga luas: memberikan pinjaman, menyediakan kredit, menerima simpanan melalui giro dan deposito, membantu permodalan usaha pertanian, industri, dan perdagangan, membeli serta menjual properti, mengelola dana, serta menjalankan kegiatan perbankan dalam arti seluas-luasnya.

Bank ini mulai beroperasi pada Januari 1930. Sebagian besar pinjamannya diarahkan untuk sektor perdagangan dan pertanian. Data awal menunjukkan pinjaman untuk perdagangan mencapai sekitar f168.000, sementara pertanian sekitar f98.000. Ini menunjukkan bahwa sejak awal, bank tersebut memang diarahkan untuk menyentuh sektor riil masyarakat pribumi.

Menariknya, N.V. Bank Nasional Indonesia tidak hanya berdiri sebagai simbol. Ia juga menjalankan praktik perbankan modern pada zamannya. Bank ini mempublikasikan neraca dan laporan laba rugi tahun 1930 di sejumlah koran Hindia Belanda. Pada tahun buku pertamanya, bank bahkan membayar dividen sebesar 6%, dan pada 1932 sebesar 5%.

Dengan ketentuan perbankan pada masa itu, khususnya berdasarkan Staatsblad No. 22/1934 dan 191/1937, N.V. Bank Nasional Indonesia di Surabaya kemudian ditetapkan sebagai Bank Kredit Rakyat Umum atau Algemeene Volkscredietbank. Ini memperkuat posisinya sebagai bagian dari ekosistem keuangan rakyat pada era kolonial.

Namun, seperti banyak jejak sejarah ekonomi pribumi pada masa penjajahan, data mengenai perkembangan N.V. Bank Nasional Indonesia masih terbatas. Beberapa sumber koran menyebutkan kegiatan bank ini hingga dekade 1940-an. Salah satu berita terakhir yang dapat ditelusuri adalah peringatan 1.000 hari wafatnya dr. Soetomo pada 1941, yang dihadiri oleh R. M. Hatmosoerono, Wakil Direktur Bank Nasional Indonesia.

Jejak lainnya muncul pada 1957 melalui iklan Panggilan Rapat Umum Luar Biasa yang diselenggarakan pada 1 Agustus 1957 di Kembang Jepun 180–184, Surabaya, oleh Komisaris Perseroan R.P. Soeroso.

Dalam perjalanan sejarahnya, bank ini juga pernah menghadapi dinamika pemberitaan. Pada 1933, beberapa koran Hindia Belanda memberitakan dugaan penarikan sementara dana sebesar f10.000 yang dikaitkan dengan Gondokoesoemo, salah satu pengurus bank. Namun, pemberitaan tersebut kemudian dibantah oleh Direktur Soejono melalui surat resmi kepada redaksi. Penyelidikan berikutnya juga tidak memberikan konfirmasi lebih lanjut atas desas-desus tersebut. Catatan ini penting dibaca secara proporsional: sebagai bagian dari dinamika institusi pribumi yang sedang tumbuh di tengah tekanan kolonial, bukan sebagai penghapus nilai historis lembaganya.

Setelah dr. Soetomo wafat di Surabaya pada 30 Mei 1938, jejak fisik perjuangannya tetap dijaga. Gedung yang terkait dengan N.V. Bank Nasional Indonesia dilestarikan karena nilai sejarahnya. Pada 27 Januari 2012, bangunan tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya, termasuk kompleks makam dr. Soetomo yang berada di belakang Gedung Nasional Indonesia, Jl. Bubutan No. 85–87, Surabaya.

Kemudian, pada 29 November 2017, bangunan tersebut diresmikan menjadi Museum Dr. Soetomo. Dari tempat inilah publik dapat membaca kembali karya, gagasan, dan warisan perjuangan seorang tokoh bangsa yang tidak hanya berpikir tentang kemerdekaan politik, tetapi juga kemandirian ekonomi.

Signifikansi N.V. Bank Nasional Indonesia tidak dapat dilepaskan dari lanskap perbankan kolonial saat itu. Pada masa Hindia Belanda, sistem keuangan banyak didominasi oleh lembaga seperti De Javasche Bank, Nederlandsche Handel Maatschappij, Nederlandsche Indische Escompto Maatschappij, serta bank-bank asing lainnya.

Di tengah dominasi itu, kehadiran N.V. Bank Nasional Indonesia menjadi pernyataan penting: rakyat pribumi harus memiliki ruang, akses, dan keberanian untuk membangun kekuatan ekonominya sendiri.

Bank ini bukan sekadar lembaga keuangan. Ia adalah simbol perlawanan ekonomi yang dijalankan melalui cara modern, terstruktur, dan legal. Ia menjadi bagian dari sejarah panjang tumbuhnya kesadaran bahwa kemerdekaan bangsa tidak hanya diperjuangkan di ruang politik, tetapi juga di pasar, di ruang usaha, di kantor bank, dan di denyut ekonomi rakyat.

Di sinilah kebesaran dr. Soetomo terlihat lebih utuh. Ia bukan hanya tokoh pergerakan. Ia adalah pembangun kesadaran. Ia memahami bahwa bangsa yang besar harus memiliki pendidikan, persatuan, keberanian politik, dan fondasi ekonomi yang kuat.

Motto hidupnya, “Facta Non Verba” — perlihatkan hasil kerjamu, tidak usah banyak bicara — menjadi cermin kepemimpinan yang relevan hingga hari ini. Kepemimpinan bukan sekadar pidato. Nasionalisme bukan sekadar kalimat indah. Cinta tanah air harus hadir dalam kerja nyata, disiplin, konsistensi, keberanian, dan pengorbanan.

Pesan dr. Soetomo yang terukir pada batu prasasti di Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur, tetap terasa menyala:

Di Indonesia tempat kita, di sana tempat berjoeang kita, di sana harus ditoenjoekan keberanian, keperwiraan dan kesatriaan kita, terutama sekali ketjintaan kita kepada noesa dan bangsa. Marilah kita bekerdja di sana, di tanah toempa darah kita.”

Hari ini, ketika bangsa memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-118, warisan dr. Soetomo kembali mengingatkan kita pada satu hal sederhana tetapi mendalam: kebangkitan bangsa tidak cukup dirayakan. Ia harus dikerjakan. Dengan ilmu. Dengan keberanian. Dengan institusi. Dengan karya nyata.

Karena nasionalisme sejati bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Nasionalisme sejati adalah keberanian membangun masa depan bangsa, satu langkah konkret pada satu waktu.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-118.

Oleh : Firman Haris, arsiparis perbankan
WhatsApp Image 2026-05-20 at 16.52.49 WhatsApp Image 2026-05-20 at 16.52.48

Referensi:

Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 5 November 1929; Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 28 Oktober 1933; De Indische Courant, 24 Februari 1941; De Indische Mercuur No. 34, 24 Agustus 1932; De Locomotief, 25 Oktober 1933; De Sumatra Post, 24 Juni 1929; Java-Bode, 18 Juli 1957; Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, Deel 1, 1939.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *