Berhaji adalah rukun ibadah tahunan bagi yang mampu, dan menjadi keinginan seluruh umat Islam di dunia. Untold story singkat ini menguak awal tradisi perbankan di sisi Barat semenanjung Arab (Hijaz) yang menjadi dua destinasi ibadah umat Islam, kota Makkah dan Madinah.

Penelusuran jejak bank konvensional pertama di tanah suci, dimulai dari brosur iklan pergi haji ke Makkah di Museum Mandiri Jl. Lapangan Stasiun kawasan Kotatua Jakarta, bangunan cagar budaya ex-kantor Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) Batavia/Jakarta 1933-1960, kini jadi aset Bank Mandiri. NHM berpusat di negeri Belanda berdiri 1824, membuka cabang pertama di Batavia 1826, dan telah memperingati seabad pendiriannya tahun 1924.

Ide awal pendirian cabang NHM di kota pelabuhan Jeddah, gerbang masuk kota Makkah, tentu dari kejelian bisnis pengurus NHM Batavia kala itu. Pemerintah Hindia Belanda dan Kantor Pusat NHM di Amsterdam kemudian mempersiapkannya.

Pangeran Faisal bin Abdulaziz Al-Saud (Riyad, 14-4-1906 – 25-3-1975), putra mahkota dan gubernur baru Makkah, berkunjung secara resmi ke Kantor Pusat NHM di Amsterdam pada Oktober 1926. Pangeran Faisal bertemu langsung Presiden NHM, Cornelis Johannes Karel van Aalst (Hoorn, 7-5-1866 – Hoevelaken 25-10-1939) dan jajaran direksinya kala itu memiliki jaringan kantor cabang yang luas di berbagai negara (global banking). Pangeran Faisal menjadi Raja Arab Saudi 1964-1975 dengan visi reformasi dan modernisasi ekonomi. Momen bersejarah ini menjadi awal kolaborasi ekonomi bilateral Kerajaan Arab Saudi dan Kerajaan Belanda.

Medio November 1926 berdiri Kantor Cabang NHM di kota Jeddah sebagai bank konvensional modern pertama di jazirah Arab dan Kerajaan Arab Saudi. Bertujuan melayani kemudahan dan keamanan transaksi keuangan jemaah haji asal Hindia Belanda (Indonesia).

Banyaknya jumlah jemaah haji dari Hindia Belanda menjadi pertimbangan Direksi NHM menyetujui pembukaan jaringan kantor di Jeddah. Jemaah haji Nusantara tahun 1926 tercatat berjumlah 43.082 orang (database SISKOHAT Kemenag). Pada dekade 1920-an jumlah jemaah haji Nusantara mencapai 40% dari total populasi jemaah haji dunia. Sejak saat itu jemaah haji asal Nusantara dapat membawa cek perjalanan, membeli dan menukar mata uang, serta menggunakan layanan perbankan lain di Cabang NHM Jeddah.

Pada Agustus 1927, Raja Abdulaziz bin Saud secara pribadi menempatkan deposito emas selama dua belas bulan senilai £250.000. Seperti “durian runtuh” bagi NHM karena tidak perlu membayar bunga (prinsip syariah), bahkan dengan izin Raja diperbolehkan memanfaatkannya di luar kerajaan. Selain itu, Raja juga menempatkan £50.000 lagi dalam deposito tanpa biaya. Relasi NHM dengan Raja Arab Saudi tercipta dengan baik.

Bangunan Kantor NHM Jeddah terekam dalam warisan dokumenter perjalanan haji pertama dan terlengkap tahun 1928, film bisu berjudul “Het Groote Mekka-Feest” (Festival Makkah yang Agung) karya George E.A. Krugers (1890-1964) durasi 72 menit. Pemutaran perdana film ini di Decca Park Batavia (sekitar Monas), 17 Agustus 1928, dan kedua di Auditorium Kota Leiden, Belanda, 8 November 1928 dihadiri Putri Juliana (19 tahun), para menteri dan undangan penting lainnya.

Tahun 1931, NHM membuka cabang pertama di kota suci Makkah dipimpin staf lokal. Sertifikat izin resmi pembukaanya diterima dari Raja sebelumnya tanggal 21 Ramadan 1347 H (2 Maret 1929). Pada tahun 1932, L. van Leeuwen, mantan Direksi NHM Batavia diangkat menjadi penasihat keuangan Raja.

Sebagai satu-satunya bank modern di Kerajaan Arab Saudi, Cabang NHM berperan signifikan. Bertindak sebagai ‘bank sentral’, menerbitkan koin perak baru, menyimpan cadangan emas Kerajaan dan menerima pendapatan minyak atas nama pemerintah. Kantor Cabang NHM Jeddah membantu pemerintah dalam peluncuran mata uang lokal.

NHM yang berawal dari bank layanan haji asal Nusantara tahun 1926 terus melakukan ekspansi dan tranformasi bisnis. Bermodal kepercayaan yang kuat dari Kerajaan Arab Saudi, tahun 1954 NHM memperluas operasi membuka dua cabang baru di kota provisinsi Timur, Al Khobar dan Ad Dammam.

Bisnis cabang NHM di luar negeri menunjukkan bahwa dengan modal kecil dapat meraup keuntungan besar dari kantor-kantor di Jeddah dan New York.

Pada 3 Oktober 1964, NHM dan Twentsche Bank bergabung menjadi Algemene Bank Nederland (ABN Bank). Pada tahun 1969, ABN Bank, penerus NHM menjadi bank asing pertama yang menerapkan inisiatif yang ditetapkan Saudi Arabian Monetary Agency (SAMA) dan menjadi model bagi bank asing lainnya di Kerajaan.

Pada tahun 1977, Saudi Hollandi Bank didirikan sebagai perusahaan patungan ABN Bank dengan modal disetor sebesar SAR 35 juta. Jaringan cabang diperluas mencakup Riyadh, Jubail, Hofuf, Madinah, Qatif, dan daerah lainnya.

Pada November 2016, Saudi Hollandi Bank mengganti namanya menjadi Alawwal Bank sebagai identitas korporat baru. Alawwal berarti “Yang Pertama” dalam bahasa Arab, merujuk pada sejarah sebagai sebagai bank pertama yang berdiri tahun 1926.

Alawwal Bank memulai proses merger pada tahun 2019 dengan Saudi British Bank (berdiri 1978) menjadi “Saudi Awwal Bank” (SAB) agar menjadi bank terbesar ketiga di Arab Saudi. Pada 14 Maret 2021, legal merger sepenuhnya selesai. SAB menawarkan layanan perbankan investasi, komersial, private, treasury, digital banking, dan bank syariah yang diatur oleh Otoritas Moneter Arab Saudi dan Komite Pengawas Syariah. SAB menggunakan logo heksagon dan jenis huruf khas brand HSBC sebagai pemangku kepetingan utama. Berkomitmen pada inovasi dan layanan pelanggan, berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial Kerajaan sebagaimana tradisi awal sejarahnya.

Kekayaan sejarah bank-bank penerus Saudi Awwal Bank (2021), ABN-AMRO (1991) dan Mandiri (1998), mempunyai embrio bank pendahulu yang sama, yaitu “NHM”. NHM di Indonesia dinasionalisasi tahun 1959-1960, akhirnya menjad BankExim dan merger ke dalamm Bank Mandiri bersama tiga bank BUMN lainnya.

Yang juga menarik, Kota Jeddah adalah kantor pusat Islamic Development Bank (IsDB) sejak 1975. IsDB adalah lembaga keuangan pembangunan multilateral yang fokus menyediakan pembiayaan syariah.

Ide pendirian IsDB bemula dari rekomendasi para menteri keuangan dari Organisasi Konferensi Islam (kini Organisasi Kerja Sama Islam) dengan dukungan dari Raja Faisal Arab Saudi saat itu. Bank ini secara resmi mulai beroperasi 3 April 1975, dengan 22 negara anggota pendiri dan modal awal disahkan sebesar 2 miliar Dinar Islam. Kini IsDB beranggotakan 57 negara pemegang saham, dan Arab Saudi sebagai pemegang saham terbesar. IsDB menjadi pendorong bank dengan prinsip syariah secara global.

Oleh : Firman Haris, arsiparis perbankan

WhatsApp Image 2026-06-01 at 08.24.08 WhatsApp Image 2026-06-01 at 08.24.10

Referensi:

Amigoe 28-01-1994; De Indische Mercuur No. 44, 03-11-1926; De Telegraaf 20-10-1926; Gedenkboek der Nederlandsche Handel-Maatschappij 1824-1924; Portal ABN-AMRO Our History; Portal IsDB; Portal SAB About Us; Sejarah Ibadah Haji Indonesia dari Masa Ke Masa, BPKH, 2023; Sumatra-Bode, 20-11-1926; Voor handel en Maatschappij: Geschiedenis van de Nederlandsche Handel-Maatschappij, 1824-1964, Ton de Graaf, 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *