Setiap tanggal 5 Juli diperingati sebagai Hari Bank, momen bersejarah kedaulatan moneter Indonesia sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya literasi, inklusi dan pertumbuhan berkelanjutan sektor perbankan.

Referensi historis peringatan ini bersumber dari Surat Keputusan Presiden Sukarno tanggal 5 Juli 1962, dikaitkan dengan berdirinya Bank Negara Indonesia (BNI) pada tanggal 5 Juli 1946 sesuai amanat konstitusi UUD 1945 di awal Kemerdekaan Republik Indonesia.

Awal Sejarah BNI

Pada 19 September 1945, R.M. Margono Djojohadikoesoemo memperoleh surat kuasa dari Presiden dan Wakil Presiden untuk membentuk bank sirkulasi yang kemudian diberi nama BNI. Sebelum resmi berdiri, dibentuk terlebih dahulu Yayasan Pusat Bank Indonesia pada 19 Oktober 1945, dengan Ketua Mohammad Hatta, Wakil Presiden, berkedudukan di Jalan Menteng 23, Jakarta.

Kondisi keamanan Ibukota Jakarta genting pasca-kemerdekaan, karena keinginan Belanda membonceng tentara Sekutu menguasai kembali RepubIik Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia pun ‘hijrah’ ke Yogyakarta pada tanggal 4 Januari 1946.

Setelah serangkaian persiapan oleh Yayasan Pusat Bank Indonesia, Pemerintah menganggap saatnya mengesahkan pembentukan BNI. Oleh karena itu pada tanggal 5 Juli 1946, Pemerintah mengeluarkan Perpu No. 2 Tahun 1946 tentang Pembentukan BNI sebagai bank sentral/sirkulasi dan bank umum dengan modal ditetapkan sebesar Rp10.000.000,-. BNI dibentuk untuk mendukung kelancaran pemerintahan dalam bidang keuangan dan perekonomian masyarakat yang baru merdeka.

Sebulanan kemudian, Wakil Presiden RI Mohammad Hatta meresmikan pembukaan kantor BNI di gedung ex-De Javasche Bank, Yogyakarta, pada tanggal 17 Agustus 1946. Pemerintah kemudian mengangkat R.M. Margono Djojohadikoesoemo sebagai Presiden Direktur BIN.

Lahirnya BNI dalam kancah perjuangan, berperan antara lain menerbitkan dan mengedarkan Oeang Republik Indonesia (ORI) secara gerilya tanggal 30 Oktober 1946 – diperingati sebagai Hari Oeang Republik Indonesia (HORI) – simbol kedaulatan ekonomi pasca-kemerdekaan. Kehadiran BNI berfungsi sebagai bentuk perlawanan ekonomi terhadap dominasi keuangan kolonial Belanda dan menjadi cikal bakal sistem perbankan nasional.

Setelah Konferensi Meja Bundar tahun 1949, fungsi bank sentral diputuskan untuk dialihkan dari BNI kepada De Javasche Bank. Pemerintah kemudian mengambil langkah nasionalisasi De Javasche Bank melalui pembelian mayoritas sahamnya. Proses ini mencapai puncaknya dengan penerapan UU Nomor 11 Tahun 1953 tentang Penetapan UU Pokok Bank Indonesia. UU yang mulai berlaku 1 Juli 1953 ini secara resmi mengubah De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia.

Status BNI sebagai bank umum ditetapkan berdasarkan UU Darurat Nomor 2 Tahun 1955. Sejarah BNI yang lahir dalam kancah perjuangan, hingga saat ini masih terus berperan penting dalam ekosistem perbankan nasional.

Harus selalu diingat bahwa bank kita ini adalah sebagai anak kandung Republik Indonesia merupakan bank nasional pertama di dalam negara Indonesia yang merdeka” – prasasti tulisan tangan R.M. Margono Djojohadikoesoemo (16/5/1894 – 25/7/1978) di depan pintu masuk Museum Bank BNI Jl. Lada, Kotatua Jakarta.

Signifikansi Peringatan Hari Bank

Semangat dan pengorbanan para pendiri Republik Indonesia dan tokoh perbankan pada masa perjuangan tidak akan pernah usang dimakan zaman. Nilai dan keteladanan ini perlu terus diwariskan dan diteladani oleh para bankir dari generasi ke generasi sesuai dengan tantangan dan perubahan zaman.

Peringatan Hari Bank Indonesia 2026 ini memberi makna yang sangat signifikan dan relevan bagi kehidupan sehari-hari masyarakat. Momen penting ini tidak sekadar memori sejarah, melainkan dapat berdampak nyata dalam berbagai aspek kehidupan sosial, seperti:

  • Meningkatkan Literasi Perbankan

Pelibatan masyarakat dalam peningkatan pemahaman dan pengetahuan produk dan layanan bank yang legal dan aman. Dengan literasi yang baik, masyakarat dapat membuat keputusan, seperti menabung, berinvestasi dengan bijak dan terhindar dari bahaya penipuan.

  • Memperluas Inklusi Perbankan

Upaya memperluas akses terhadap produk dan layanan bank, sehingga semua lapisan masyarakat, termasuk kelompok ekonomi lemah, dapat memanfaatkan layanan bank, seperti tabungan pelajar dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi usaha kecil dan menengah.

  • Meningkatkan pendidikan karakter bangsa bagi semua

Menginspirasi generasi muda, masyarakat prasejahtara dan penyandang disabiitas memahami dan meneladani proses panjang dan pengorbanan para pahawan dan tokoh perbankan dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan nasional.

  • Meningkatkan Kepercayaan Publik

Akuntabilitas dan transparansi kinerja bank dalam menjaga stabilitas rupiah dan sistem pembayaran digital, antara lain ekspansi QRIS antarnegara meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap iklim investasi domestik.

Dengan meningkatnya literasi dan inklusi perbankan, masyarakat dapat lebih mandiri secara finansial, membangun ketahanan dalam menghadapi krisis ekonomi, dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Tantangan Profesionalisme Bankir Indonesia

Peringatan Hari Bank sebagai ajang refleksi tahunan untuk peningkatan profesionalisme dan standar etika para bankir Indonesia. Sehingga dapat menguatkan daya saing sektor perbankan di tingkat regional maupun global.

Wadah tunggal profesi, Institut Bankir Indonesia (IBI), memainkan perang penting dalam memperkokoh kompetensi teknis, manajerial dan digital para bankir di era percepatan digitalisasi. Tantangan keamanan sistem, hak-hak digital, kolaborasi dengan fintech, integrasi sistem keuangan, dan kebutuhan model bisnis baru yang berkelanjutan, menjadi agenda prioritas bagi pengembangan profesionalisme bankir.

Praktik kepatuhan pada Kode Etik Bankir Indonesia harus selalu terpelihara dan terukur. Bank sebagai institusi kepercayaan masyarakat sangat bergantung pada integritas dan kredibilitas para bankir. Integritas dann profesionalisme bankir adalah ‘napas’ dalam setiap aktivitas perbankan.

Sistem perbankan Indonesia telah mengalami evolusi signifikan. Mulai era bank kolonial Belanda yang berorientasi pada kepentingan luar negeri, masa kemerdekaan dan nasionalisasi, perkembangan bank nasional dan perbankan modern, hingga bank digital. Setiap periode meninggalkan jejak penting yang membentuk cara masyarakat berinteraksi dengan layanan bank, sekaligus menegaskan kontribusi bank dalam pembangunan ekonomi nasional.

Sektor perbankan memiliki peran penting menggerakkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui penghimpunan dana, penyaluran pembiayaan ke sektor ekonomi produktif, dan jasa keuangan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Di sisi lain, tata kelola bank yang mengedepankan prinsip kehati-hatian, stabilitas sistem keuangan, dan penguatan inklusi keuangan, menjadi aspek utama dalam mencapai tujuan pembangunan nasional.

WhatsApp Image 2026-07-06 at 19.22.06 WhatsApp Image 2026-07-06 at 19.22.07

hari bank indonesia

Oleh: Firman Haris, Arsiparis Perbankan

Referensi:

Bank Indonesia Dalam Perjalanan Pembangunan Ekonomi Indonesia 1953-2003, Bank Indonesia, 2009; Inventaris Arsip Foto Bank BNI 1946-1992, ANRI, 2015; Melangkah Ke Masa Depan Dengan Kearifan Masa Lalu, Swadhama Bhakti Nagara, Bank BNI, 1996; Situs web Ikatan Bankir Indonesia (IBI)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *